akhir slide show-->

Pelantikan Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (OPTI) Cabang Wonosobo

1. Mengenal THalasemia

Apakah talasemia itu? Adalah penyakit keturunan (genetik) dimana terjadi kelainan darah (gangguan pembentukan sel darah merah). Sel darah merah sangat diperlukan untuk mengangkut oksigen yang diperlukan oleh tubuh kita.
Pada penderita talasemia karena sel darah merahnya ada kerusakan (bentuknya tidak normal, cepat rusak, kemampuan membawa oksigennya menurun) maka tubuh penderita talasemia akan kekurangan oksigen, menjadi pucat, lemah, letih, sesak dan sangat membutuhkan pertolongan yaitu pemberian transfusi darah. Bila tidak segera ditransfusi bisa berakibat fatal, bisa meninggal.
Setelah ditransfusi, penderita talasemia menjadi segar kembali. Kemudian darah yang sudah ditransfusikan tadi setelah beberapa waktu akan hancur lagi. Kembali terulang penderita kekurangan oksigen, timbul gejala lagi, perlu transfusi lagi, demikian berulang-ulang seumur hidup. Bisa tiap minggu penderita memerlukan transfusi darah, bahkan bisa lebih sering. Jadi seperti di ceritera Drakula, kalau sudah menghisap darah menjadi segar lagi.
Celakanya, darah yang ditransfusi terus-menerus tadi ketika hancur akan menyisakan masalah besar yaitu zat besi dari darah yang hancur tadi tidak bisa dikeluarkan tubuh. Akan menumpuk, kulit menjadi hitam, menumpuk di organ dalam penderita misalnya di limpa, hati, jantung. Penumpukan di jantung sangat berbahaya, jantung menjadi tidak bisa memompa lagi dan kemudian penderita talasemia meninggal.

Anak penderita thalasemia kadang sudah mulai ditransfusi pada awal-awal kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan terganggu, pucat, lemah. Mukanya menjadi tidak normal, hidung menjadi pesek, mata menjauh karena pertumbuhan tulang tengkorak terganggu, mukanya khas yang di dunia kedokteran dikenal sebagai muka (facies) Cooley.
Perut membuncit karena limpa, hati membesar, bahkan kadang-kadang perlu limpanya diangkat karena membesar tadi.

Setiap tahun ada 100.000 anak yang lahir dengan Thalasemia Mayor. Sedangkan di Indonesia tidak kurang dari 3.000 anak lahir dengan penyakit tersebut. Prevalensi Thalasemia Mayor di Jawa Tengah sebesar 0,5%, dengan prevalensi tertinggi di Kabupaten Purworejo. Tahun 2013 di Kabupaten Wonosobo kasus Thalasemia Mayor ada 14 kasus dan 1 kasus Thalasemia Minor.

2. Talasemia tidak menular dan dapat dicegah

Talasemia bukan penyakit menular, tapi dapat dicegah. Mengapa dapat dicegah? Karena penderita talasemia dilahirkan dari ibu dan ayah pembawa sifat talasemia, kedua orang tua tersebut normal-normal saja tidak menunjukan gejala talasemia sedikitpun.
Bila ibu pembawa sifat menikah dengan ayah pembawa sifat maka kemungkinan 25% anaknya menderita talasemia, 50% menjadi pembawa sifat lagi dan hanya 25% yang normal.
Oleh karena itu, untuk mencegah lahirnya seorang bayi talasemia, seorang ibu yang pembawa sifat jangan menikah dengan ayah yang pembawa sifat juga.

3. Apakah kita ada peluang punya anak thalasemia?

Benar sekali, kita punya peluang sangat besar punya anak menderita thalasemia karena kita di Indonesia berada di daerah yang jumlah pembawa sifatnya sangat banyak yaitu antara 6-10% dari jumlah penduduk. Dari satu survey di sebuah fakultas kedokteran di Indonesia ternyata 5,9% mahasiswanya adalah pembawa sifat thalasemia.
Karena itu sangat bijaksana apabila kita sebelum menikah sudah mengetahui apakah kita pembawa sifat atau bukan, baik laki-laki maupun perempuan perlu mengetahuinya. Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati
Wanita pembawa sifat jangan menikah dengan pria pembawa sifat. Kalau pun ngotot akan menikah janganlah punya anak, dan selalu dalam pengawasan dokter spesialis kebidanan dan kandungan.
Kita perlu memeriksakan diri dan melakukan tes yang disebut tes skrining talasemia. Pemeriksaannya sangat mudah dan biayanya pun murah dapat dilakukan di tempat praktik dokter yang telah ikut program tes skrining ini.
Pemeriksaannya hanya sedikit ujung jari ditusuk, darah diambil setetes, kemudian di tes dan waktunya pun sangat singkat, kurang dari 10 menit. Pemeriksaan itu dikenal dengan nama tes skrining talasemia dengan Thalcon-OF.
Bila hasilnya negatif, kemungkinan sangat besar kita bukan pembawa sifat. Tapi bila positif, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan di laboratorium. Apakah ada penyakit lain ataukah memang benar pembawa sifat talasemia.

4. Dimana saya dapat diperiksa tes talasemia

Selama ini penderita Thalasemia di Kabupaten Wonosobo harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk mendapatkan konsultasi dan pengobatan, yaitu di Magelang. Sehingga sangat membebani penderita dan keluarga/pendamping baik dari tenaga, waktu dan biaya untuk transportasi. Sedangkan untuk biaya pengobatan sudah dibiayai oleh Jaminan Kesehatan Thalasemia.

Untuk membantu meringankan biaya dan mendekatkan pelayanan bagi penderita Thalasemia, dibentuk Pengurus Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia Cabang Wonosobo, dengan susunan pengurus sebagai berikut :

Pelindung Bupati Wonosobo
Penasehat Direktur RSUD KRT Setjonegoro
Ketua 1. dr. HERU WAHYONO, SpA
  2. drg. JAKA MULYANA
Sekretaris 1. SURAWAN NUGROHO
  2. SRI WAHYU WIDAYANTI, S.Kep.Ns
Bendahara dr. RINI KARTIKA
Seksi Humas 1. Subag TU dan Humas RSUD KRT Setjonegoro
  2. Kabid P2P Dinas Kesehatan
Seksi Kesejahteraan 1. Agus
  2. dr. HANDOKO SULISTYO
Seksi Umum ANTO
Tim Medis 1. dr. HANDAYANI, MSc, SpA
  2. dr. PRATIWI AMINDARI
  3. MAHMUDAH, S.Kep, Ns

Apabila memerlukan informasi dan konsultasi lebih lanjut dapat menghubungi RSUD KRT Setjonegoro Kabupaten Wonosobo, Telp (0286) 321091, Email : rsudsetjonegoro@yahoo.co.id, SMS : 085643311900


Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas